Isu tentang pembantaian dukun santet masih menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah sosial Indonesia. Peristiwa ini tidak hanya mencerminkan ketakutan kolektif terhadap praktik supranatural, tetapi juga menunjukkan bagaimana isu kepercayaan bisa berubah menjadi kekerasan massal. Artikel ini akan membahas secara menyeluruh tentang latar belakang, penyebab, dan dampak dari tragedi ini, serta pandangan ahli sosial tentang fenomena yang mengguncang Jawa Timur pada akhir 1990-an.
Latar Belakang Terjadinya Pembantaian Dukun Santet
Pada akhir dekade 1990-an, tepatnya antara tahun 1998 hingga 1999, Indonesia sedang berada dalam masa transisi besar. Krisis ekonomi, kerusuhan politik, dan kejatuhan rezim Orde Baru menciptakan suasana sosial yang penuh ketidakpastian. Di tengah kekacauan itu, muncul isu bahwa banyak dukun santet menyebabkan penyakit dan kematian misterius di beberapa wilayah, terutama di Banyuwangi, Jember, dan Situbondo.
Masyarakat yang sudah diliputi ketakutan dan amarah, dengan mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet. Banyak korban yang sebenarnya tidak bersalah menjadi sasaran karena desas-desus, dendam pribadi, atau kesalahpahaman.
Fakta Sejarah Pembantaian Dukun Santet
Menurut data dari berbagai laporan media dan lembaga hak asasi manusia, peristiwa pembantaian dukun santet menelan ratusan korban jiwa. Sebagian besar korban adalah warga desa yang dikenal tertutup atau memiliki pengetahuan tradisional yang dianggap mencurigakan.
Berdasarkan laporan Komnas HAM, peristiwa ini menewaskan lebih dari 300 orang di Jawa Timur dan sekitarnya. Banyak korban dibunuh dengan cara keji: dibakar, dipenggal, atau diserang secara massal di rumah mereka sendiri. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa terdapat indikasi bahwa sebagian pembunuhan dilakukan secara terorganisir oleh kelompok tertentu.
Faktor Penyebab Terjadinya Pembantaian
1. Krisis Sosial dan Ekonomi
Kondisi ekonomi yang buruk membuat masyarakat mudah tersulut emosi. Ketika penderitaan meningkat, muncul kecenderungan untuk mencari kambing hitam, dan dukun dianggap sebagai penyebab malapetaka.
2. Minimnya Literasi dan Pendidikan
Di banyak daerah pedesaan, kepercayaan terhadap santet masih sangat kuat. Kurangnya edukasi membuat masyarakat sulit membedakan antara kepercayaan spiritual dan fakta ilmiah.
3. Pengaruh Politik dan Ketidakstabilan Keamanan
Banyak analis menduga bahwa pembantaian ini bukan semata konflik sosial, melainkan juga bagian dari kekacauan politik pasca-reformasi. Aparat keamanan yang lemah dan transisi pemerintahan membuat hukum tak lagi berjalan efektif.
4. Dendam dan Konflik Pribadi
Dalam beberapa kasus, tuduhan dukun santet dijadikan alasan untuk membalas dendam. Konflik tanah, masalah keluarga, dan iri hati sosial sering kali menjadi pemicu utama kekerasan.
Analisis Sosiologis: Ketakutan Kolektif dan Mitos Santet
Menurut Dr. Endang Prasetyo, seorang sosiolog dari Universitas Airlangga, fenomena ini bisa dijelaskan melalui konsep moral panic atau kepanikan moral. Masyarakat merasa ada ancaman besar terhadap nilai dan keselamatan mereka, sehingga bereaksi secara ekstrem.
Selain itu, dalam budaya Jawa, kepercayaan terhadap santet dan ilmu hitam sudah berakar dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hal-hal aneh terjadi—seperti kematian mendadak atau penyakit misterius—masyarakat sering menghubungkannya dengan praktik sihir.
Dampak Sosial dari Pembantaian Dukun Santet
Peristiwa ini meninggalkan trauma panjang bagi masyarakat pedesaan. Banyak keluarga kehilangan anggota tanpa proses hukum yang jelas. Di beberapa daerah, ketakutan terhadap label “dukun” masih bertahan hingga sekarang.
Dampak lainnya adalah hilangnya banyak pengetahuan tradisional. Banyak orang yang sebenarnya merupakan tabib atau penyembuh tradisional takut untuk berpraktik karena khawatir dicap sebagai dukun santet.
Dari sisi sosial, peristiwa ini juga memperlemah kepercayaan antarwarga. Banyak hubungan antar tetangga menjadi renggang akibat rasa curiga yang tertanam sejak tragedi itu terjadi.
Upaya Pemerintah dan Organisasi HAM
Pemerintah saat itu sempat berusaha meredam situasi dengan menurunkan aparat keamanan dan melakukan penyelidikan. Namun, hasilnya tidak pernah sepenuhnya memuaskan. Banyak pelaku pembunuhan tidak teridentifikasi atau lolos dari hukuman karena dianggap bagian dari gerakan massa.
Organisasi seperti Komnas HAM dan Amnesty International mendesak adanya penyelidikan mendalam dan keadilan bagi korban. Sayangnya, sebagian besar kasus pembunuhan dukun santet berakhir tanpa penyelesaian hukum yang jelas.
Pandangan Penulis: Cermin Kerapuhan Sosial dan Budaya
Sebagai penulis yang meneliti fenomena sosial, saya melihat tragedi pembantaian dukun santet sebagai bukti nyata betapa rentannya masyarakat terhadap isu-isu berbasis ketakutan dan kepercayaan.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa ketidaktahuan dan kurangnya literasi bisa berujung pada kekerasan kolektif. Isu santet tidak bisa diselesaikan dengan emosi atau kekerasan, melainkan dengan pendidikan, dialog budaya, dan pendekatan kemanusiaan.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Tragedi Ini?
- Pentingnya Pendidikan dan Literasi – Pengetahuan adalah senjata terbaik melawan ketakutan irasional.
- Peran Media yang Bertanggung Jawab – Media harus menghindari penyebaran isu supranatural tanpa dasar yang dapat memicu kepanikan publik.
- Penegakan Hukum yang Tegas – Negara harus hadir melindungi warganya, bukan membiarkan hukum rimba berlaku.
- Pemulihan Sosial dan Kultural – Diperlukan program rekonsiliasi untuk mengembalikan kepercayaan antarwarga.
Refleksi Akhir: Antara Kepercayaan dan Kemanusiaan
Fenomena pembantaian dukun santet menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan zaman, masih ada sisi gelap dari kepercayaan dan ketakutan manusia. Indonesia sebagai bangsa yang beragam harus belajar menghargai perbedaan, termasuk dalam hal spiritualitas.
Jika masyarakat lebih terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan berempati terhadap sesama, tragedi seperti ini tidak akan terulang lagi.










Leave a Reply